Home » » 20 KEBIADABAN KRISTEN

20 KEBIADABAN KRISTEN

Written By Ridha Illahi on Rabu, 21 Maret 2012 | 12.12

Pertama.
Penindasan terhadap Arius, tokoh aliran Unitarian. Pada tahun 325 Masehi,
Kaisar Romawi, Konstantin mengadakan kongres yang dikenal dengan Konsili
Nicea yang dihadiri oleh 2.048 utusan dari berbagai negeri untuk menetapkan
konsep ketuhanan dan Injil yang dianggap sah, karena terjadi pertentangan
antara aliran Unitarian dengan Trinitarian.
Aliran Unitarian berpandangan bahwa Tuhan itu satu -sama seperti ajaran
seluruh nabi-nabi Yahudi seperti nabi Musa, Ibrahim, Daud dll- melawan
aliran Trinitarian yang berpandangan bahwa Tuhan itu satu tapi terdiri dari
tiga oknum Tuhan (three in one). Dogma Trinitarian ini diciptakan oleh
Paulus dan jelas bertentangan dengan ajaran seluruh nabi-nabi Yahudi selama ribuan tahun.
Salah satu tokoh Trinitarian yang paling terkenal adalah Athanasius.
Sedangkan tokoh aliran Unitarian adalah Arius, seorang ketua majelis
agama/gereja digereja Baucalis Alexandria, salah satu gereja tertua dan
terpenting dikota itu pada tahun 318 M. Logika Arius adalah:
“Jika Yesus itu benar-benar anak Tuhan, maka Bapa harus ada lebih dahulu.
Oleh karena itu harus ada “masa” sebelum adanya anak. Berarti anak adalah
makhluk. Maka dari itu anak tidak selamanya ada atau tidak abadi. Sedangkan Tuhan yang sebenarnya adalah abadi, berarti Yesus tidaklah sama dengan Tuhan.” Beliau juga mengatakan: “Ada masa sebelum adanya Yesus, sedangkan Tuhan sudah ada sebelumnya. Yesus ada kemudian, dan Yesus hanyalah makhluk biasa yang bisa binasa seperti makhluk-makhluk lainnya. Tetapi Tuhan tidak akan binasa.”
Namun karena konsili berpihak kepada kelompok Trinitarian, maka para tokoh
Unitarian pun dibungkam pendapatnya dan kemudian disisihkan. Seperti Arius
ini walaupun pendapatnya benar namun karena dianggap sesat oleh Gereja, maka
beliau akhirnya dikucilkan oleh Gereja sampai akhir hayatnya.
Dan karena pihak Trinitarian telah menjadi pemenang dalam Konsili tersebut,
maka Injil-injil yang menurut kalangan Trinitarian mendukung ketuhanan Yesus
pun kemudian dikumpulkan -termasuk surat-surat Paulus yang dikirimkan kepada
teman-temannya- oleh mereka, tidak lupa secara licik diselundupkan beberapa
ayat baru (PALSU) seperti misalnya tiga kasus penyusupan ini:
3 AYAT PALSU DALAM ALKITAB
http://groups.yahoo.com/group/islamkristen/message/129854
Setelah itu kemudian ayat-ayat “gado-gado” itu digabungkan dan kemudian
dijilid menjadi satu dalam buku/kitab yang kemudian kita kenal dengan nama
Perjanjian Baru (The New Testament), dan Kitab tersebut kemudian dijadikan
sebagai Kitab Suci umat Kristen (baca: Trinitarian). Sedangkan
puluhan-puluhan Injil lainnya tidak diakui, seperti Injil Barnabas dll.
Arius sangat menentang keras keputusan Nicea pada tahun 325 M. Sebelum
matinya, Arius sempat mengeluhkan mengenai keadaan dirinya yang senantiasa
mendapatkan tantangan dari orang-orang gereja Paulus. Hal itu dikatakannya
kepada salah seorang sahabatnya bernama Eusibius dari Nicomedia yang
merupakan salah seorang sahabatnya ketika sama-sama belajar dengan Lucian.
Setelah itu semakin lama aksi kekerasan terhadap siapapun yang tidak sefaham
dengan dogma Trinitarian semakin kasar dan kejam.
Kedua
Tahun 395. Kaisar Theodosius membentuk institusi gereja Kristen yang
dikenal dengan Inkuisisi (Inquisition). Inkuisisi adalah institusi hukum
kepausan yang dibentuk untuk memberantas kaum heretic, kekuatan magic dan
kekuatan yang dianggap berbahaya. Inkuisisi memiliki kekuasaan yang tak
terbatas. Siapapun yang dianggap berbahaya ditangkap dan dijatuhi hukuman
dari yang ringan sampai yang berat seperti digantung, dibakar hidup-hidup,
dibunuh pelan-pelan, giginya dicabut satu persatu, kulitnya dikelupas, dst.
Ketiga
Tahun 431, Konsili Ekumenikal Efesus. Konsili ini mengutuk Nestorianisme,
ajaran kristen yang menyangkal persatuan sifat keAllahan dan kemanusiaan
dalam Kristus. Konsili ini mendefinisikan gelar Maria sebagai Theotokos
(Pembawa Allah), juga gelar Bunda Putera Allah yang menjadi Manusia, dan
mengutuk Pelagianisme.
Ajaran Kristen Pelagianisme, bermula dari asumsi bahwa Adam memiliki hak
alami terhadap hidup supernatural, berpegang bahwa manusia bisa mendapatkan
penyelamatan lewat usaha-usaha dari kekuatannya yang alami dan kehendak
bebas. Ajaran ini meliputi menentang terhadap pemahaman dosa asal, makna
dari rahmat dan hal-hal lainnya. Variasi ajaran Kristen Pelagianisme lainnya
juga dikutuk oleh sebuah konsili di Orange pada tahun 529. Dalam konsili ini
pula diputuskan untuk memburu semua pengikut Kristen Pelagianisme untuk
dimusnahkan.
Keempat.
Tahun 1142. Gereja membakar hidup-hidup Abelard, seorang filosof dan
tokoh Kristen di Prancis.
Kelima
Tahun 1215. Kekuasaan absolut Paus di dalam Katolik Eropa pada abad ke 12
dan ke 13 menimbulkan reaksi yang tak terduga. Pada saat itu, muncul
beberapa gerakan menyimpang pembawa doktrin baru yang dikecam oleh Paus.
Keresahan Paus dan kelompok Katolik menjadi sedemikian besar terhadap
gerakan penyimpangan ini, sehingga pada tahun 1215 masehi, Paus membentuk
Lembaga Inkuisisi untuk memerangi dan memberantas penyimpangan tersebut.
Lembaga ini mempunyai cabang di setiap kota di Prancis, Italia, Jerman,
Polandia, Spanyol dan negeri-negeri Kristen yang lain. Orang yang dituduh
melakukan penyimpangan akan berhadapan dengan para penyelidik. Jika didapati
bersalah, ia akan menerima hukuman yang berat.
Lembaga ini memiliki kekuasaan yang besar, sampai-sampai menekan segala
bentuk kebebasan berfikir. Siapapun yang dicurigai memiliki ide dan
pandangan yang bertentangan dengan pandangan gereja akan disiksa dengan
keras. Malah lembaga ini adakalanya mengeluarkan hukum vonis sesat pada
mereka yang sudah mati, dan memerintahkan supaya kerandanya dikeluarkan dari
kuburan. Proses ini dijelaskan oleh Will Durant dalam bukunya History of
Civilisation vol 18 halaman 35 sebagai berikut:
“Mahkamah Inspeksi Ide, Hukum, dan Agama memiliki tatacara legalnya sendiri.
Sebelum mahkamah lokal didirikan, akta-iman akan dibacakan di seluruh mimbar
gereja. Akta ini menuntut informasi tentang orang-orang yang dicurigai
berpaham atheis, tidak beragama, atau sesat. Orang-orang tersebut akan
diseret ke muka pengadilan. Tetangga, rekan, dan sahabat diminta untuk
menjadi informan.
Informan diberi jaminan untuk dirahasiakan dan dilindungi. Siapa saja yang
dianggap sebagai atheis, atau gagal untuk membuktikan bahwa dirinya bukan
atheis, akan dipenjarakan dan diancam dengan penyingkiran, kecaman, dan
berbagai larangan. Adakalanya yang sudah mati divonis sebagai atheis dan
memperolok-olok Tuhan. Upacara khusus dijalankan untuk menunjukkan hukuman
yang dikenakan kepada mereka. Harta mereka dirampas. Ahli waris yang
seharusnya mewarisi harta mereka disingkirkan dari hak waris. 30 hingga 50
persen harta orang mati yang divonis tadi, diberikan kepada yang mendakwa.
Bentuk hukuman juga berlainan mengikuti tempat dan waktu yang berbeda-beda.
Di satu tempat, si terdakwa digantung dengan tangan diikat pada bagian
belakangnya. Di tempat lain terdakwa diikat sedemikian rupa sehingga tidak
bisa bergerak, dan air dikucurkan ke dalam tenggorakannya sampai mati lemas.
Ada pula yang diikat dengan tali sedemikian keras pada bagian lengan dan
kaki sehingga ikatan itu melukai tulangnya.”
Keenam.
Tahun 1415 di Spanyol 31.000 orang yang menentang gereja dibakar.
Ketujuh
Tahun 1416. Gereja juga membakar John Hus dan Jerome sampai mati
di Bohemia.
Kedelapan.
Pada awal abad ke 16, lembaga ketiga dibentuk di Eropa, yang dimulai oleh
Marthin Luther dengan nama Protestan. Luther yang berasal dari Jerman dan
pengikutnya menentang sikap Paus yang menjual tempat di surga dengan
meringankan hukuman atas dosa yang dilakukan.
Marthin Luther, seorang reformis dalam agama kristen, terlahir ke dunia di
Eisleben, Jerman pada tanggal 13 Mei tahun 1483. Luther menuntut ilmu di
Universitas Erfurt dan kemudian bekerja sebagai pengajar teologi. Martin
Luther kemudian melakukan penelitian dan dia mengemukakan banyak pendapat
yang berbeda dengan pandangan umum gereja Katolik saat itu.
Sejak tahun 1517, Martin Luther menyampaikan kritikannya secara
terang-terangan sehingga akhirnya terpaksa bersembunyi karena dikejar-kejar
pihak gereja untuk dibunuh. Selama dalam persembunyian itu, Martin Luther
menulis terjemahan Injil ke dalam bahasa Jerman, sesuatu yang dilarang keras
oleh gereja Katolik. Ide-Ide Martin Luther kemudian berkembang menjadi
aliran Protestan yang menjadi sumber dari berbagai perang dan pertarungan
politik di Eropa.
Mereka berusaha untuk memperbaiki seluruh gereja dan membersihkannya dari
kekeliruan dan korupsi. Usaha mereka malah menambah perpecahan dalam tubuh
agama Kristen. Pengikut Luther yang berjumlah sangat besar, termasuk
sebagian besar Eropa Utara menolak kekuasaan Paus dan mendirikan kelompok
Kristen Ketiga.
Kelompok Kristen bentukan Marthin Luther ini adalah aliran yang sekarang
kita kenal dengan nama Kristen Protestan. Alkitab yang mereka gunakan adalah
hasil “njiplak” begitu saja tanpa malu-malu Alkitab milik Gereja Katolik,
namun Marthin Luther membuang dengan seenak udelnya tujuh kitab dalam
Perjanjian Lama, sehingga Alkitab Protestan hanya berjumlah 66 kitab,
sedangkan Katolik 73 kitab. Jadi Alkitab Protestan lebih tipis tujuh kitab
dari Katolik.
Kitab-kitab yang telah dibuang oleh Marthin Luther sehingga kini tidak
terdapat dalam Alkitabnya Protestan adalah Kitab Tobit, Yudit, Kebijaksanaan
Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe.
Kesembilan.
Tahun 1553. Kala Protestan berkuasa di Jenewa, Swiss, hal bakar-membakar
manusia yang padahal tak lain adalah citra-Nya sendiri itu masih juga
berlangsung. Seperti di sebuah hari di musim gugur pada tahun 1553.
Korbannya adalah Michael Servetus, seorang ahli agama asal Spanyol. Ia
dihukum mati di bukit Champel, di selatan Kota Jenewa. Ia diikat ke sebuah
tiang, dan dibakar pelan-pelan. Ia tewas kesakitan dengan tubuh menghangus.
Ia dibakar hidup-hidup karena dianggap sesat oleh pemerintah Kota Jenewa.
Yang memilukan, saat itu Kota Jenewa dipimpin oleh seorang yang sangat
terkenal sebagai tokoh reformasi, yang tak lain adalah John Calvin.
Apa salahnya Michael Servetus sehingga harus dibunuh secara bengis begitu?
Tak lain dan tak bukan adalah ia hanya menulis buku, ia menulis surat, ia
berpendapat. Tetapi ia punya kesimpulannya sendiri tentang Tuhan, dan sebab
itu mengusik para penjaga iman Protestan di Jenewa, kota yang telah jadi
sebuah teokrasi yang lebih keras ketimbang Roma. Adalah Jean Calvin sendiri
yang menyeret Servetus ke dalam api. Pelopor dahsyat dari Protestanisme
itulah yang memimpin Jenewa ke suatu masa ketika iman sama artinya dengan
ketidaksabaran.
Servetus sebenarnya hanya salah satu suara yang mengguncang, di zaman ketika
doktrin retak-retak seperti katedral tua yang digoncang gempa. Ia lahir di
Villanueva, Spanyol, mungkin di tahun 1511. Ia bermula belajar ilmu hukum di
Toulouse, Prancis. Di sini ia menemukan injil, yang ia baca “seribu kali”
dengan haru. Tapi kabarnya ia juga membaca Qur’an dan terpengaruh oleh
Yudaisme, dan sebab itu sangat meragukan doktrin Trinitas. Marthin Luther
menjulukinya “Si Arab”.
Di tahun 1531 ia menerbitkan bukunya, De Trinitatis erroribus libri vii
(Kesalahan Trinitas). Konon ia mengemukakan bahwa inilah arti Yesus sebagai
“Putra Allah”, yaitu “Tuhan Bapa mengembuskan Logos ke dalam dirinya, tapi
Sang Putra tak setara dengan Sang Bapa”. Seperti dikutip oleh Will Drant
dalam jilid ke-6 The Story of Civilization, bagi Servetus, Yesus “dikirim
oleh Sang Bapa dengan cara yang tak berbeda seperti salah seorang Nabi”.
E.M. Wilbur dalam bukunya “History of Unitarianism” mengemukakan pendapat
Michael Servetus itu dalam karangannya berjudul “The Error of Trinity” yang
terlarang itu antara lain sebagai berikut:
“Servetus confesses that in his book he called believers in Trinity
trinitarians and atheists. He declared our evangelical religion to be
without faith and without God, and that in place of God we have a
threeheaded Cerberus” (Servetus mengakui bahwa di dalam bukunya ia menyebut
para penganut Trinitas adalah Trinitarians dan Atheist. Ia menyatakan bahwa
agama kita yang berdasar Injil itu adalah tanpa iman dan tanpa Tuhan, kita
menempatkan di tempat Tuhan itu Cerberus Dewa Pengawal yang berkepala Tiga).
Servetus menulis bukunya itu ketika ia berusia 20-an tahun, dengan bahasa
Latin yang masih kaku, buku itu cukup membuat amarah para imam Katolik dan
pemimpin Protestan sekaligus, di tengah suhu panas (dan berdarah) yang
menguasai mereka. Di tahun 1532, Servetus pun buru-buru pindah ke Prancis.
Tapi di sana ia dihadang. Badan Inkuisisi Gereja Katolik -yang bertugas
mengusut lurus atau tidaknya iman seseorang, dengan cara menginterogasinya
dan kalau perlu menyiksanya- mengeluarkan surat perintah penangkapan.
Servetus lari lagi sampai Wina, Austria dengan nama samaran Michel de
Villeneuve. Selama itu ia berhasil menguasai ilmu kedokteran, tetapi ia toh
selalu ingin mengemukakan pendapatnya tentang agama.
Di tahun 1546 ia menyelesaikan Christianismi Restitutio, dan mengirim
naskahnya ke Calvin. Mungkin ia ingin menunjukkan oposisinya terhadap tafsir
Calvin atas injil. Bagi Servetus, Tuhan tak menakdirkan sukma manusia ke
neraka. Baginya, Tuhan tak menghukum orang yang tak menghukum dirinya
sendiri. Iman itu baik, tetapi Cinta Kasih lebih baik.
Calvin, yang memandang Tuhan seperti yang tergambar dalam Perjanjian Lama
-angker dan penghukum- tak melayani Servetus. Ia hanya mengirimkan karyanya,
Christianae religionis institutio. Servetus pun mengembalikannya -dengan
disertai catatan yang penuh hinaan, disusul dengan serangkaian surat yang
mencemooh- “Bagimu manusia adalah kopor yang tak bergerak, dan Tuhan hanya
sebuah gagasan ganjil dari kemauan yang diperbudak”. Calvin tak bisa
memaafkan cercaan ini.
Calvin pula, lewat orang lain, yang memberitahu padri inkuisitor di Prancis
tentang tempat bersembunyi Servetus. Kerja sama Protestan-Katolik yang tak
lazim ini yang akhirnya membuat Servetus tertangkap di Wina. Ia memang
berhasil melarikan diri. Tapi nasibnya sudah diputuskan: pengadilan sipil
Wina, dengan napas Gereja Katolik, memvonisnya dengan hukuman bakar bila
tertangkap.
Anehnya ia lari ke Jenewa, tempat Calvin berkuasa. Mungkin Servetus berpikir
bahwa orang protestan, yang di Prancis dianiaya karena berbeda keyakinan,
akan lebih toleran di kota itu. Tapi ternyata tidak. Mereka membakarnya.
Calvin kemudian membela kekejaman di bukit Champel itu dengan sebuah argumen
yang kita kenal: Aku beriman kepada Kitab Suci, maka akulah yang tahu
kebenaran itu. Yang tak sama dengan aku adalah musuh ajaran, musuh Tuhan,
harus ditiadakan.
Argumen dengan api itu masih bisa kita dengar kini, dalam pelbagai versinya,
dalam pelbagai agama, meskipun di tahun 1903, seperti sebuah sesal, sebuah
monumen untuk Servetus dibangun di bukit Champel. Salah satu donaturnya:
gereja Protestan yang dulu dipimpin Calvin. Tampaknya manusia sudah lebih
sadar tentang kerumitannya sendiri, sedikit.
Kesepuluh.
Tahun 1556. Pada 7 Juli 1556, 8 pastor dan 12 guru Jesuit memasuki
Ingoistadt, Jerman. Dimulailah era baru bagi Bavaria. Konsepsi Katolik Roma
mengatur arah politik para pangeran
dan tingkah laku para bangsawan Bavaria. Tetapi konsepsi itu hanya
menjangkau kalangan atas saja, tidak rakyat biasa. Walaupun demikian
disiplin besi yang diterapkan oleh negara dan gereja membuat masyarakat
Bavaria menjadi umat Katolik yang setia, patuh, fanatik dan tidak toleran
terhadap para “heresy” (pembangkang agama).
Mayrhofer of Ingoistadt, seorang Jesuit, mengajarkan bahwa orang-orang
Jesuit (anggota Ordo Jesuit) tidak akan dihakimi jika kami memerintahkan
untuk membunuh kaum Protestan, lain halnya kalau kami diminta menjatuhkan
hukuman mati untuk para pencuri, pembunuh, penghianat dan para pelaku
revolusi.
Pada tahun 1563, sesaat setelah para pastor Jesuit tiba di Bavaria (Jerman),
kelakuan Albert V terhadap kaum Protestan dan semua yang simpatik terhadap
Protestan semakin kejam dan menjadi-jadi. Sejak tahun 1563, tanpa belas
kasihan dia memusnahkan semua orang-orang yang tidak patuh dan juga para
penganut Anabaptis, mereka ditenggelamkan, dibakar, dipenjarakan dan
dirantai. Semua tindakan Albert V itu disetujui oleh Jesuit Agricola.
Pada tahun 1571, Archduke (bangsawan agung) Charles of Styrie, putra
terakhir Ferdinand menikah dengan seorang putri bangsawan Bavaria tahun
1571. Dibawah pengaruh putri ini, Charles bekerja keras memusnahkan para
heresi, orang-orang yang tidak sejalan dengan Katolik dari kerajaannya.
Kesebelas.
Tahun 1561. Berdasarkan sebuah laporan dari Jesuit, Emmanuel Phillibert
of Savoy melakukan penghakiman berdarah terhadap para Heresi (orang-orang
yang tidak sejalan dengan faham Katolik Roma) tahun 1561. Hal yang sama
terjadi di Calabria, Casal di San Sisto dan Guardia Fiscale. Jesuit sangat
berkuasa di Parma dan Napoli, Italia selama abad ke-16 dan ke-17.
Tetapi di Venice, dimana mereka sebelumnya diterima dengan segala kemurahan
hati, kemudian dipaksa keluar dari kota tersebut pada 14 Mei 1606. Mereka
kembali lagi tahun 1656, tetapi pengaruh mereka di Republik Venice tersebut
tidak ada lagi.
Keduabelas.
Tahun 1570. Dalam Kiblat No.: 19/XXX buku “Jesus Prophet of Islam”
mencatat isi surat Adam Neuser yang telah dikutip oleh Areland di dalam
bukunya berjudul “Treaties Concerning The Mohametons” halaman 215-223, surat
itu dikirim kepada Yang Mulia Sultan Selim II (memerintah 1566-1574) Emperor
Turki Usmani di Istambul. Surat itu dewasa ini termasuk dalam “Antiquities
Palatinae” tersimpan dalam arsip kota Heidelberg. Isi surat itu di
antaranya:
“Saya Adam Neuser, seorang Kristen kelahiran Jerman dan menjabat Penginjil
(Preacher) orang banyak di Heidelberg, dengan ini menyatakan ingin mengungsi
ke bawah perlindungan Paduka Tuan, ingin menyerahkan diri sepenuhnya pada
Allah beserta Nabi Paduka Tuan. Dengan anugerah Allah Yang Maha Kuasa saya
lihat dan saya ketahui dan saya percaya sepenuh hati bahwa ajaran yang Anda
anut dan ajaran agama anda (Islam) adalah murni dan jelas diterima Allah”.
Sebagai akibat suratnya itu Adam Neuser ditangkap dan dipenjarakan bersama
kedua pengikutnya bernama Sylvan dan Mathias Vehe. Pada tanggal 15 Juli 1570
Adam Neuser dan kawan-kawan lolos tetapi tertangkap kembali dan dihukum
mati. Namun sebelum dilaksanakan dia sendiri dibantu lolos oleh
simpatisannya dan akhirnya tiba di Istambul dengan selamat dan menjadi
penyiar Islam disana.
Ketigabelas.
Akhir tahun 1586, para penganut Anabaptis dari Movaria berhasil
menyembunyikan 600 korban yang selamat dari penyiksaan Duke Guillaume. Ini
satu contoh yang membuktikan bahwa beribu-ribu dan bukan beratus-ratus yang
dimusnahkan oleh Ordo Jesuit. Benar-benar kekejaman yang mengerikan yang
menimpa negara berpopulasi rendah ini. Secara perlahan, semua pengajaran di
Bavaria diserahkan kepada Jesuit dan bumi Bavaria menjadi pusat penetrasi
Jesuit ke Jerman bagian barat, timur dan selatan.
Keempatbelas.
Tahun 1579. Penindasan Gereja terhadap Francis David. Francis David
(1510-1579) semula menganut Protestan yang sangat brilyan dan ketika Luther
dan Calvin pecah, David mengikuti Calvin. Pada tahun 1566 ia menghasilkan
pengakuan keimanan (Confession of Faith) yang mencengangkan. Di antara
isinya:
“Bentuk Kebaktian yang bagaimanapun sederhananya tidak boleh ditujukan
kepada Kristus tetapi kepada Allah Tuhan Bapa”. (The Forms of simple prayers
are directed not to Christ, but to the Father).
“Kristus, Guru Kebenaran mengajarkan, bahwa tiada siapapun tempat mohon
pertolongan terkecuali hanya Allah Tuhan di surga”. (Christ, the Teacher of
Truth taught no one is to be invoked beside the Heavenly Father).
Francis David tidak melakukan kesalahan apa-apa, apa yang dilakukannya
hanyalah mengatakan apa yang tertulis dalam Alkitab apa adanya. Dia hanya
mencoba untuk berlaku jujur. Tetapi Francis David karena pernyataannya itu
dihukum seumur hidup dan mati dipenjara pada tahun 1579. Setelah David mati
ditemukan sajak yang ditinggalkannya di penjara yang kemudian tersebar
berbunyi:
“Dua puluh tahun dengan jujur
Aku melayani negaraku
Dan terhadap pangeran
Kesetiaanku dapat dibuktikan
Apakah anda pertanyakan kejahatan
Yang dituduhkan tanah air padaku?
Cuma disebabkan keyakinanku Allah itu Esa bukan tiga
Yang aku sembah
Walaupun petir, salib dan pedang Paus
Serta maut tampil di depan mata
Bahkan kekuasaan apapun
Tidak akan mampu mencegah
Perkembangan kebenaran
Apa yang aku rasakan
Dan aku tuliskan
Dengan ikhlas hati
Aku Bicara
Sesudah kematianku
Dogma kepalsuan akan ambruk”
Kelimabelas.
Tahun 1600. Seorang pakar astronomi yang sepemahaman dengan Copernicus,
yakni Bruno Giordano, mengalami nasib yang lebih tragis. Ia dijatuhi fatwa
mati oleh pihak gereja karena dianggap ajarannya melawan kebenaran isi
Alkitab.
Karena Giordano masih kepingin hidup lebih lama, mengetahui nyawanya
terancam oleh fatwa mati ia segera kabur menyelamatkan diri. Perjuangannya
ternyata menuai kegagalan. Tahun 1600 ia berhasil ditangkap oleh pihak
berwajib di Compo de Fiori, Italia dan dijatuhi hukuman mati, yakni dengan
cara dibakar hidup-hidup!
Keenambelas.
Tahun 1613. Kasus yang menimpa Galileo Galilei. Penganut kristiani saleh
yang lahir 15 Februari 1564 ini, pada tahun 1613 menerbitkan sebuah karya
berjudul “Sejarah dan Konsep-konsep tentang Noda Matahari Beserta
Fenomenanya”, yakni sebuah ulasan yang menunjukkan dukungan pada teori
Copernicus.
Pada tanggal 22 Juni tahun 1633, Galileo Galilei, astronom, matematikawan,
dan fisikawan Italia abad ke-17, diajukan ke pengadilan gereja karena
pemikirannya dianggap bertentangan dengan kebijakan gereja. Pada zaman itu,
gereja meyakini bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan planet-planet lain
berputar mengelilingi bumi. Pada tahun 1632, Galileo menulis sebuah buku
yang menolak pandangan ilmuwan bernama Bartholomeus berkenaan dengan sistem
tata surya.
Dalam buku itu, Galileo mengemukakan hasil penelitiannya, bahwa mataharilah
pusat tata surya dan bumi serta planet-planet lainnya berputar mngelilingi
matahari.
Tahun 1633, gereja menuduh teori “Matahari Centris” sebagai ajaran sesat dan
melarang Galileo yang penemu thermometer ini untuk memberi ceramah. Tahun
1633, “Bapak Sains Masa Kini” ini dibawa ke Roma, dihadapkan ke Pengadilan
Gereja dan dijatuhi hukuman seumur hidup.
Gereja kemudian menjatuhkan vonis kafir kepada Galileo dan mengancamnya
dengan hukuman mati. Demi menghindari hukuman mati, Galileo menyatakan
menarik pandangannya itu, namun ketika keluar dari pengadilan, dia
mengatakan, “Meskipun demikian, bumi tetaplah berputar.”
Galileo meninggal tahun 1642 dan statusnya sebagai tahanan rumah dibawanya
sampai mati. Ironis, akhirnya kemudian terbukti pendapat Galileo Galilei
bahwa bumi yang mengelilingi matahari adalah benar, sedangkan pendapat
Alkitab bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi adalah salah.
Ketujuhbelas.
Gereja memenjarakan Christopher Columbus yang menemukan benua tanpa
memberitahu Saint Paul. Gereja memvonis setiap penemuan hukum alam, evolusi
dunia, ataupun benua yang sebelumnya tidak diramalkan oleh kitab suci,
sebagai sebuah pelanggaran moral.
Kedelapanbelas.
Gereja menyingkirkan Pascal dan Montey karena dianggap tidak bermoral,
dan Muller dengan tuduhan pencabulan.
Kesembilanbelas.
Tahun 1619. Wabah fatwa mati ternyata tak hanya menimpa Giordano, tapi
juga Lucilio Vanini. Ilmuwan yang sealiran dengan Copernicus ini ditangkap
di Kota Toulouse pada tahun 1619 karena dianggap menghina Tuhan. Ia menerima
hukuman dari gereja yang begitu kejam, yakni dipotong lidahnya dan dibakar
hidup-hidup!
Keduapuluh.
Tahun 1741. Thomas Emlyn (1663-1741) lahir di Dublin Irlandia dan
lulusan Cambridge University telah mengarang buku berjudul: “An Humble
Inquiry Into The Scripture Account Of Jesus Christ”.
Dalam buku itu Emlyn telah menafsirkan Bible mengenai Yesus Kristus dengan menempatkannya dalam kedudukan sebagai Mediator (perantara) di antara manusia dengan Tuhan. Lalu secara halus Emlyn memisahkan Yesus itu dari Kedudukan Tuhan, dan akhirnya menghapuskan ide tentang Trinitas.
Karena pendapatnya itu Emlyn dipenjarakan. Beliau dituduh: “menulis dan
menerbitkan suatu Bible bersifat hina dengan skandal dan mengumumkan bahwa Yesus Kristus bukan Tuhan Maha Agung”. (He is writing and publishing an infamous and scandalous bible declaring that Jesus Christ is not the Supreme God).
Tetapi banyak pengagum Emlyn kemudian menyebutnya sebagai: “The Galaxy of Saints” (Bimasaktinya para Santo) demikian kata A.Wallace dalam bukunya yang berjudul: “Anti Trinitarian Biographies”.
—————————————————————-
Islamthis,
Artikel ini menyajikan dan membuktikan bahwa karoSetan, baik Alkitabnya mau pun (spirit) umatnya selalu dipenuhi dengan kekerasan, kesadisan dan kekejian. Kemudian, dari ayat-ayat manakah dalam Alkitab yang menginspirasikan semua jidat karoSetan untuk gemar melakukan kesadisan??
Inilah beberapa ayat-ayat kekerasan yang ada dalam Alkitab. Silahkan membaca.
Matius 10:33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”
Matius 10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.
MAtius 10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,
MAtius 10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.
==========
Lukas 19:27 Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”
==========
Ulangan 17:5 maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati.
Ulangan 17:12 Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
==============
2Tawarikh 15:12 Mereka mengadakan perjanjian untuk mencari TUHAN, Allah nenek moyang mereka, dengan segenap hati dan jiwa.
2Tawarikh 15:13 Setiap orang, baik anak-anak atau orang dewasa, baik laki-laki atau perempuan, yang tidak mencari TUHAN, Allah Israel, harus dihukum mati.
==============
Hosea 13:16 (14-1) Samaria harus mendapat hukuman, sebab ia memberontak terhadap Allahnya. Mereka akan tewas oleh pedang, bayi-bayinya akan diremukkan, dan perempuan-perempuannya yang mengandung akan dibelah perutnya.
==============
Yesaya 13:16 Bayi-bayi mereka akan diremukkan di depan mata mereka, rumah-rumah mereka akan dirampoki, dan isteri-isteri mereka akan ditiduri.
Yesaya 13:17 Lihat, Aku menggerakkan orang Madai melawan mereka, orang-orang yang tidak menghiraukan perak dan tidak suka kepada emas.
Yesaya 13:18 Panah-panah mereka akan menembus orang-orang muda; mereka tidak akan sayang kepada buah kandungan, dan mereka tidak menaruh kasihan kepada anak-anak.
==============
Zakaria 14:1. Sesungguhnya, akan datang hari yang ditetapkan TUHAN, maka jarahan yang dirampas dari padamu akan dibagi-bagi di tengah-tengahmu.
Zakaria 14:2 Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu.
===============
1Samuel 15:2 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.
1Samuel 15:3 Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai.”
 
GAGASAN PERANG ALQURA'N DAN BIBLE
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : R Merah
Proudly powered by R Merah
Copyright © 2011. R Merah - All Rights Reserved
Template Design by Raa Pramuja Published by Adam Pramuja