Home » » Melatih Agar Anak Tidak Rewel, saat Ditinggal

Melatih Agar Anak Tidak Rewel, saat Ditinggal

Written By Ridha Illahi on Selasa, 15 Mei 2012 | 03.08

Meninggalkan Anak Kadang terasa sulit lho. Apalagi ketika dia sedang menangis, menjerit dan menggapai-gapai Anda. Tidak tega rasanya. Kecemasan berpisah adalah fakta bahwa kehidupan dimulai sekitar usia 6 bulan. Tampaknya seperti sebuah kemunduran –anak Anda yang biasanya senang bermain dengan siapa saja kini merengek untuk selalu bisa bersama Anda. Tapi hal itu normal dan menunjukkan tahapan perkembangan yang yang sehat.  “Kecemasan berpisah sebenarnya merupakan lompatan secara intelektual maupun emosional,” kata Alan Greene, MD, penulis buku Raising Baby Green. “Untuk pertama kalinya, bayi Anda mulai memikirkan Anda ketika Anda tidak bersamanya.”
Bayi belajar mengenai perpisahan sebelum mereka belajar tentang perjumpaan kembali. Jadi, dapat dimengerti mengapa mereka marah ketika orang tuanya pergi. “Intinya bayi Anda tahu ada sesuatu yang hilang. Dalam kasus ini yang hilang itu adalah Anda, hal yang terpenting dalam kehidupannya,” kata Robyn J.A. Silverman, PhD, spesialis tumbuh kembang anak di Massachusetts. Untuk mengatasinya, gunakan beberapa strategi berikut ini.
Strategi 1: BERLATIH DENGAN PERPISAHAN KECIL
“Sekali bayi Anda tahu kalau Anda pergi dan kembali lagi, kecemasan itu akan mulai mencair,” kata Dr. Green. Bermain games dengan bayi Anda merupakan jalan yang mudah untuk menyampaikan pesan. Coba tutup wajah Anda dengan selimut dan katakan, “Di mana ibu?” Kemudian buka sambil tertawa. Dengan cepat dia akan meraih selimut dengan tangannya sendiri bila Anda melakukanya lagi.    
Lakukan perpisahan yang lebih besar, seperti meninggalkannya sendiri di kamarnya untuk satu atau dua menit. Letakkan dia di tempat yang aman, berikan mainan dan katakan kepadanya, “Ibu akan segera kembali.” Kemudian pergilah ke ruangan lain. Kalau dia menangis, bernyanyilah atau berkata kepadanya sehingga dia tahu kalau Anda masih ada di sana, walaupun dia tidak melihat Anda. Perpisahan-perpisahan pendek ini akan membuktikan Anda akan kembali lagi. Dan akhirnya bayi Anda akan belajar bahwa dia dalam kondisi aman walau Anda tidak ada di dekatnya.
Strategi 2 : JANGAN TINGGALKAN DIA DENGAN ORANG YANG BENAR-BENAR TIDAK IA KENAL
Idealnya anak-anak melakukan banyak hal lingkungan rumahnya dengan baby sitter yang sudah mereka kenal dengan baik. Jangan heran kalau bayi Anda menangis ketika neneknya datang. Bahkan wajah-wajah yang sudah dikenalnya dapat membuat seorang bayi marah di saat dia hanya menginginkan ibunya. Kalau Anda mengenalkan baby sitter baru, suruh dia bermain dengan bayi Anda selagi Anda masih di rumah. Bayi Anda akan melihat Anda nyaman dengan orang ini dan dia akan mempercayainya juga. Hal yang sama juga berlaku di hari Anda membawanya ke tempat penitipan anak untuk pertama kali. Jika Anda ingin menggunakan perawat dari klub kesehatan Anda tapi bayi Anda tidak pernah ke sana, lakukan persiapan. Datanglah ke sana  pada hari saat Anda bisa meluangkan waktu bersamanya dan bertemu pengasuhnya. Lain waktu, Anda dapat menitipkan bayi Anda bersamanya ketika Anda berolahraga.
Ketika Anda meninggalkannya dengan pengasuh atau di tempat penitipan anak, beri dia mainan favoritnya -boneka binatang atau mainan khusus lainnya - untuk membuatnya merasa lebih aman. “Barang-barang yang dekat dengan keseharian bayi akan membantu menenangkannya,” kata Kathleen Longeway, PhD,  psikolog anak di Children Hospital of Wisconsin, Milwaukee. Dan selalulah bekali pengasuh dengan petunjuk yang jelas tentang kebiasaan bayi. Melakukan hal-hal rutin secara teratur akan membuatnya merasa nyaman.
Strategi 3:  PERGI YANG TERENCANA
Jangan pergi tanpa mengucapkan selamat jalan. Pergi dengan diam-diam sepertinya cara  paling gampang, tapi jika bayi mencari-cari dan tiba-tiba Anda tidak ada, dia mulai berpikir Anda dapat menghilang kapan saja. Ini hanya akan meningkatkan rasa ketergantungan bayi terhadap Anda.
Sebaliknya datanglah dengan ungkapan salam perpisahan lucu yang biasa dilakukan. Bisa berupa ciuman di kening, nyanyian atau tarian. “Saya mempunyai anak laki-laki berumur 9 bulan, Max, yang mendorongku keluar rumah,” kata Jill Gawrych, ibu 3 orang anak dari Jackson, Wisconsin. “ Dia harus mendorongku dengan keras untuk pergi, dan ini menyenangkan sekali.”
Strategi 4: BIARKAN SAJA DIA MENANGIS
Walau terkesan kejam, Anda mungkin perlu meninggalkan bayi Anda saat ia masih menangis. “Ragu-ragu untuk pergi mungkin hal yang paling buruk yang dapat Anda lakukan,” kata Dr. Longeway. Bayi-bayi mengambil isyarat emosi dari orang tua mereka. Jadi, jika Anda ragu atau  mengekspresikan penyesalan, bayi Anda berpikir dia mempunyai sesuatu yang Anda takuti,” Dr. Silverman. “Bayi Anda akan membaca kegelisahan Anda yang terlihat seperti ‘Aku sungguh tidak percaya dengan orang yang menjaga kamu,’” kata Dr. Silverman. “Ini mengajarkannya terus bergantung kepada Anda dan tidak percaya serta gelisah berada di di dekat orang lain.”
Sebaliknya, hilangkan stres Anda dengan menarik napas panjang beberapa kali. Dan ingat, biasanya kegelisahan berpisah ini lebih berpengaruh terhadap orang tua dari pada anak.  “Setelah beberapa menit dengan pengasuh yang penuh perhatian, kebanyakan bayi akan menjadi tenang,” kata Dr. Silverman.
Strategi 5: LUANGKAN WAKTU DENGANNYA KETIKA ANDA KEMBALI
Beri salam bayi Anda dengan senyuman, kemudian ikuti keinginannya. “Bergabunglah dengan Anak secara emosional maupun fisik,” kata Dr. Silverman. Jadi, jika dia memeluk, luangkan waktu beberapa saat merapatkan badan Anda kepadanya. Jika dia lebih suka main bola, ikut saja bermain. Dan jika dia menangis, ikuti juga tidak apa-apa. kadang-kadang anak-anak  perlu mengeluarkan kemarahan dan keresahannya.
Seperti pada semua tahapan, keadaan ini tidak akan berlangsung terus menerus. Ketika hal itu terjadi, camkan dalam pikiran Anda bahwa kecemasan berpisah itu menandakan dimulainya hubungan baru bagi Anda dan si kecil; bahwa Anda berdua akan selalu berhubungan, bahkan ketika sedang berpisah.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : R Merah
Proudly powered by R Merah
Copyright © 2011. R Merah - All Rights Reserved
Template Design by Raa Pramuja Published by Adam Pramuja