Ads (728x90)

Tak lahir dari komunitas Arab di negara muslim, wanita muslim Amerika punya cara sendiri memperlihatkan identitas keislaman mereka. Tren mode pakaian muslim di Amerika yang sedang tumbuh pesat tak sekadar gaya, tetapi diakui sebagai bagian pergeseran budaya Islam di Amerika.
Perancang busana asal Corona, Jamesa Nikiema, mencipta tren pakaian unik yang menjaga kesederhanaan sekaligus menjaga tradisi berpakaian muslimah.
Desain pakaian yang dia pasarkan lewat situs www.rebirthofchic.com, lebih dari sekadar gaya baru pakaian. “Untuk pertama kalinya saat generasi muslim keempat kita mencari identitas muslim Amerika,” kata Nikiema seperti dimuat Press Entreprise.
Bagi wanita muslim yang lahir di Amerika, pakaian tradisional Islam terasa sangat asing. Sehingga dalam beberapa tahun terakhir, berbagai mode pakaian muncul memenuhi kebutuhan muslimah Amerika. Popularitas pakaian muslimah gaya baru mulai naik daun sekitar lima tahun lalu, terutama di kalangan generasi muda.
“Generasi muda mencoba menangkap kesederhanaan pakaian muslim tetapi dengan sentuhan barat.”
Bersamaan meluasnya kesadaran berpakaian trendi namun sesuai syariat islam memunculkan blog-blog mode muslimah yang kini kian populer di berbagai komunitas keislaman di negeri Paman Sam tersebut.
Nikiema menyatakan mulai merancang busama muslim sejak 2004. Seiring meningkatnya permintaan, ia lalu mendirikan toko pakaian serta penjualan dalam jaringan.
Pakaian rancangannya menutupi aurat sesuai islam, dengan sentuhan pemberontak dengan unsur punk rock. Tunik kotak-kotak dengan inset kotak-kotak sebetis dengan sapuan warna Jamaika membuat rancangan terkesan berani. Atau, kombinasi favorit lainnya sebuah rok A-line dengan blus balon seperti masa renaisans di Eropa.
“Saya senang tampil berbeda dan wanita muslim juga pantas tampil beda,” katanya menegaskan.
Sumber: VIVA, Go Two On

 

Posting Komentar

Silahkan berargumen sesuai pemahaman anda, sampaikan dengan santun jangan terlalu persuasif, apalagi provokatif.
Janganlah suka berdebat berkepanjangan yang tidak menggunakan akal seraya mengebiri etika berinteraksi sosial.