Home » , , » Syekh dari Makassar, Penyebar Islam di Afrika

Syekh dari Makassar, Penyebar Islam di Afrika

Written By Ridha Illahi on Jumat, 13 Juli 2012 | 14.43

Syekh Yusuf adalah ulama, sufi dan penyebar Islam hingga tanah Afrika.

Makam Syah Yusuf, penyebar Islam di Afrika (Foto: Rahmat Zeena, Makassar)
Makam Syah Yusuf, penyebar Islam di Afrika (Foto: Rahmat Zeena, Makassar)  
Muhammad Yusuf, atau sekarang lebih dikenal dengan Syekh Yusuf, adalah salah seorang tokoh spiritual dan fenomenal asal Sulawesi Selatan pada masanya hingga saat ini. Pria yang dilahirkan di Gowa, tahun 1626, atau empat abad silam, adalah ulama, sufi, dan penyebar Islam hingga tanah Afrika.

Ayah Syekh Yusuf bernama Abdullah Abul Mahasin, konon adalah seorang rakyat jelata tapi memiliki latar belakang keislaman yang kuat. Sebaliknya ibu Syekh Yusuf yang bernama Aminah, adalah seseorang yang masih memiliki keturunan langsung dari Sultan Al Aladin.

Berdasarkan penuturan asisten juru kunci Makam Syekh Yusuf, Rahmat, Syekh Yusuf remaja sejak awal memang dididik oleh keluarga secara islami. Ia ditempa dengan berbagai ilmu seperti ilmu tauhid, fikih dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun, ia memperdalam ilmu agamanya ke Syekh Jalaluddin Al-Aidid di Cikoang, wilayah pesisir Kabupaten Takalar.

Syekh Yusuf dikenal sebagai seorang yang haus dengan ilmu agama. Hanya tiga tahun menempa ilmu di Cikoang, atau berusia sekitar 18 tahun, ia kembali ke Makassar dan menikah dengan Putri Raja Gowa. Masih dalam suasana pengantin baru, ia kemudian nekad meninggalkan tanah kelahirannya, dan pergi ke  Timur Tengah. Tujuannya untuk lebih memperdalam ilmu agama yang telah dimilikinya.

Dalam perjalannya itu, tutur Rahmat, Ia mula-mula naik kapal Melayu dari Pelabahuan Makasar menuju Pelabuhan Banten. Di daerah tersebut, ia menetap beberapa lama untuk belajar ilmu agama serta menjalin hubungan pribadi yang erat dengan kalangan elite Kesultanan Banten, yang saat itu diperintah oleh Abul Mafakhir Abdul Qadir’ (1037-63/1626-51).

Dari Banten, Yusuf kemudian berangkat menuju Aceh dan berguru pada Ar-Raniri, kemudian ke India, dan berakhir di Yaman, Timur Tengah. Di Yaman ia berguru kepada Muhammad  Abdul Baqi An-Naqsyabandi dan  Sayyid Ali  Az-Zabidi.

"Dari Yaman, ia kemudian   melanjutkan perjalanannya ke Mekkah dan Madinah," papar Rahmat lagi.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan, ulama-ulama yang menjadi gurunya selama di Makkah dan di Madinah adalah Ahmad Al-Qusyasyi, Ibrahim Al-Kurani, dan Hasan Al-‘Ajami.
Tak cukup di Saudi Arabia, Yusuf masih melanjutkan perjalanan ke pusat pengetahuan Islam di Timur Tengah, Damaskus. Yusuf  belajar dengan salah seorang ulamanya yang terkemuka Ayyub bin  Ahmad bin  Ayyub Ad-Dimasyqi Al-Khalwati. 
"Di Damaskulah ia mendapat gelar At-Tajul Khalwati, atau Mahkota Khalwati," ujar Rahmat lagi.

Dari Damaskus, ia kemudian kembali ke Mekah sebelum  pulang ke kampung halamannya, yang saat itu masih bernama Nusantara. Dalam perjalanan mencari ilmu itu, memakan waktu sekitar 20 tahun, dan pada usia 38 tahun, ia sempat menjadi pengajar di Arab Saudi.

Sekembalinya dari Timur Tengah, Syekh Yusuf tidak langsung pulang ke Makassar. Ia justru singgah di Banten dan mengembangkan seluruh ilmunya di tanah Banten. Tidak disebutkan alasan utama sehingga memilih Banten, namun beberapa informasi menyebutkan, Yusuf tidak kembali ke Goa, sekarang Gowa, karena Islam tidak diperlakukan semestinya. Banyak perbuatan yang dianggap melecehkan Islam, seperti berjudi, mengadu ayam, meminun arak serta menghidupkan lagi animisme tanpa ditindak oleh Sultan.

Ia kemudian memilih Banten dan menjadi penasihat agama bagi Sultan Ageng Tirtayasa. Di Banten itu pula, Syekh Yusuf tidak hanya menjadi guru dan ulama. Tapi Syekh Yusuf ikut serta melakukan gerilya melawan Belanda dengan memimpin 4.000 tentara asal Bugis Makassar.

Perlawanan yang gigih terhadap penjajah itu akhirnya berakhir pada pada tahun 1682. Tepatnya di bulan September, Syekh Yusuf bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid dan sejumlah pembantunya ditangkap dan dibuang di Seilon (kini Srilanka).

Di negara itu, Syekh Yusuf lagi-lagi berbagi ilmu dan banyak menulis buku-buku keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. Dia juga mengorganisir orang-orang Nusantara yang melakukan haji dan singgah di Srilanka.

Pemerintah Kumpeni rupanya terusik dengan aktivitas Syekh Yusuf yang masih gencar melakukan dakwah. "Karena masih merasa terancam, penjajah kemudian memindahkan Syekh Yusuf ke Kaapstad di Afrika Selatan," ungkap Rahmat.

Saat itu, Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya ditempatkan di Zandveliet dekat muara Sungai Eerste, 35 kilometer dari ibu kota Afrika Selatan, Cape Town. Tempat ini belakangan diubah oleh masyarakat Afrika menjadi Macassar Downs dan pantai bernama Macassar Beach.

Meski diasingkan, aktivitas dakwah tidak berhenti begitu saja. Ia bahkan semakin memantapkan pengajaran Islam kepada pengikut-pengikutnya. Ia juga mempengaruhi orang-orang buangan lainnya, yang kebanyakan berasal dari budak, untuk melakukan perlawanan.

Berselang lima tahun, atau pada 23 Mei 1699, Syekh Yusuf meninggal dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan di tempat itu juga. Kabar meninggalnya ulama yang bergelar Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ini langsung beredar luas, termasuk pemerintah kompeni di Batavia dan Raja Gowa, Sultan Abdul Jalil.

Atas permintaan Raja Gowa, tahun 1705, jenazah Syekh Yusuf dipulangkan ke Makassar, dan dimakamkan di Lakiung, atau saat ini lebih dikenal dengan Ko'bang, yang berada di Jalan Syekh Yusuf, perbatasan Gowa dan Makassar.

"Beliau yang mulia dimakamkan pada 6 April 1705 atau 12 Zulhijjah 1116 H," pungkas Rahmat. (Laporan: Rahmat Zeena, Makassar)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : R Merah
Proudly powered by R Merah
Copyright © 2011. R Merah - All Rights Reserved
Template Design by Raa Pramuja Published by Adam Pramuja