Home » » Pembunyian Meriam Belanda Jadi Sinyal Satu Syawal

Pembunyian Meriam Belanda Jadi Sinyal Satu Syawal

Written By R Merah on Minggu, 19 Agustus 2012 | 22.08

PADANGPARIAMAN, SUMBAR - Jamaah Syattariyah, Sumatera Barat yang berpusat di Ulakan Kabupaten Padangpariaman akan membunyikan beduk dan meriam saat bulan (hilal) terlihat pada Sabtu (18/8) untuk menetapkan satu Syawal Idul Fitri 1433 hijriah.

"Kemungkinan kami lebaran pada hari Minggu, karena kita baru akan melihat kemunculan bulan (hilal) pada Sabtu," kata Ketua Majelis Zikir Istiqamah Syattariyah (Mazis) Padangpariaman, Syafri Tuanku Imam Sutan Sari Alam di Padangpariaman, Rabu (15/8).

Jatuhnya satu Syawal Jamaah Syattariyah, katanya, bisa saja sama dengan waktu yang akan ditetapkan Muhammadiyah bila jatuhnya pada Ahad (19/8). Ia menjelaskan, sudah menjadi tradisi setelah bulan terlihat, dibunyikan beduk di masjid dan nagari atau desa adat dan surau-surau di kampung.

Membunyikan beduk masjid setiap kali awal dan akhir Ramadhan menurutnya merupakan tradisi yang tidak boleh punah. "Dengan telah didengarnya bunyi beduk, maka seluruh surau dalam nagari mengiringi dengan membunyikan beduk pula," katanya.

Dibunyikannya beduk, katanya, sebagai pemberitahuan bahwa lebaran jatuh pada keesokan harinya kepada masyarakat kampung yang tidak ikut prosesi melihat bulan. Di Kecamatan VII Koto, pemberitahuan itu dilakukan melalui dibunyikannnya meriam peninggalan Belanda sebanyak dua kali, satu menghadap utara dan satu lagi menghadap selatan.

Sementara itu, Qhadi (imam) Syattariyah Ulakan Tuanku Ali Imran, menambahkan, prosesi melihat bulan dilakukan dengan mata telanjang sesuai tradisi turun-temurun Jemaah Syattariyah di Sumbar dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Bila bulan tidak tampak dari Ulakan, ia akan melakukan koordinasi dengan imam di daerah lain di Sumbar. Jamaah Syattariyah di Sumbar, katanya, melihat bulan di sejumlah titik yakni di Koto Tuo (Padangpanjang), Agam, Pesisir Selatan dan Sijunjung.
Tradisi melihat bulan dalam menentukan awal Ramadhan, katanya, memakai hitungan bilangan takwim qamsyiah, yakni hitungan berdasarkan tahunan.

Sebelum melakukan ritual melihat bulan nantinya, kata Ali Imran, para jamaah Syattariyah melakukan dzikir terlebih dahulu di Surau Syekh Burhanuddin.
Selanjutnya rombongan pergi menuju tepi pantai Ulakan untuk melihat bulan sebagai pedoman dalam menentukan kapan mereka mulai berpuasa.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : R Merah
Proudly powered by R Merah
Copyright © 2011. R Merah - All Rights Reserved
Template Design by Raa Pramuja Published by Adam Pramuja