Ads (728x90)


SITUS Sejarah Makam Pengeran Jayakarta ini terletak di Kelurahan Jatinegara Kaum, Kelurahan Pulogadung, Jakarta Timur. Di makam ini terdapat Masjid As Salafiyah, peninggalan Pangeran Jayakarta alias Achmad Djaketra yang dibangun pertamakali tahun 1620.
Lokasinya tak jauh dari terminal bus Rawamangun dan Instalasi Penjernihan PAM Pulogadung. Dari Jl Bekasi Raya dan pusat mebelair Klender hanya 300-an meter.
Para peziarah di makam yang sudah berumur lebih 3,5 abad ini, sebelum mereka menabur bunga di makam tersebut, biasanya dibacakan riwayat perjuangan Pangeran Jayakarta.
Di dalam masjid di bagian yang asli, yaitu di depan mihrab dengan mimbar yang terbuat dari kayu jati dari tahun 1620-an.
“Mimbar itu asli peninggalan Pangeran Jayakarta. Seperti empat soko guru masjid ini juga asli dari kayu jati yang kini sudah dilapis,” kata sesepuh dan ahli waris Makam Pangeran Jayakarta dan Makam Pangeran Shogeri, H Kanzul Arifin.
Pelapisan dengan kayu maupun dengan semen dimaksudkan sebagai upaya konservasi yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.
Menurut H Kanzul, beberapa kali direnovasi dan diperluas, bagian yang tetap dipertahankan dari masjid peninggalan Pangeran Jayakarta ini ada beberapa yaitu atap cungkup beberbentuk pyramid berikut genting dan lisplangnya , soko guru di dalam masjid dan mimbar.
Kalau dahulu masjid As Salafiyah ini dapat menampung hanya sekitar 300 orang jamaah, kini sudah dapat menampung lebih dari 800 jamaah. Selain dibuat bertingkat, halaman yang menghadap ke jalan Jatinegara Kaum sudah diubin keramik warna hijau muda.
Ahli waris makam, baik Sukendar, H Kanzul Arifin maupun Raden Manaf alias Raden Triyadi Syahbandar Muda mengharapkan penataan situs Makam Pangeran Jayakarta diteruskan sehingga akan lebih nyaman untuk kepentingan umum dan para peziarah, yaitu wisatawan religi dan sejarah berdirinya Kota Jakarta.
“Termasuk rencana gapura sebelah timur sebaiknya segera dibangun. Karena selama ini banyak yang nyasar kalau ingin ke masjid Pangeran Jayakarta,” kata Sukendar.
____________________________________________________________

Posting Komentar

Silahkan berargumen sesuai pemahaman anda, sampaikan dengan santun jangan terlalu persuasif, apalagi provokatif.
Janganlah suka berdebat berkepanjangan yang tidak menggunakan akal seraya mengebiri etika berinteraksi sosial.