Brisbane (ANTARA News) - Gelombang demonstrasi warga Australia menentang aksi pembantaian rakyat Palestina di Jalur Gaza terus berlanjut. Setelah aksi demonstrasi damai ratusan warga Australia pro-Palestina di Brisbane, Sabtu (3/1), ribuan orang menggelar aksi yang sama di Sydney dan Melbourne, Minggu.

Media Australia melaporkan, aksi demonstrasi di Sydney diwarnai dengan pembakaran bendera Israel dan protes keras para aktivis pada "sikap diam" pemerintah Australia terhadap isu Palestina. Mereka juga mengeritik pemerintah Mesir karena tidak membuka wilayah perbatasannya bagi masuknya pengungsi dan bantuan.

Aksi pemboman militer Israel yang telah menewaskan lebih dari 400 warga Palestina dan melukai ribuan orang lainnya di wilayah Gaza yang dikuasai pemerintah Palestina dari kubu Hamas itu disebut Tokoh Masyarakat Palestina di Australia, Fouad Shriedy, sebagai "pembantaian".

Demonstrasi menentang pembantaian rakyat Palestina juga digelar ribuan warga Australia di Melbourne. Dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di Federation Square itu, mereka juga membakar bendera Israel.

Sementara itu, di luar gedung parlemen negara bagian Victoria, Melbourne, kelompok pro-Israel juga menggelar aksi demonstrasi. Mereka meminta Hamas menghentikan serangan roket ke wilayah selatan Israel.

Sehari sebelumnya, di tengah guyuran hujan deras, ratusan orang di Brisbane berunjuk rasa menentang aksi brutal militer Israel di Jalur Gaza. Mereka juga menyuarakan dukungan pada kemerdekaan bangsa Palestina dan mengutuk kejahatan kemanusiaan Israel di Jalur Gaza.

Gelombang aksi demonstrasi anti-Israel pecah di Australia sejak 29 Desember lalu. Pada aksi demonstrasi 29 Desember yang berlangsung di depan kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Sydney itu, para demonstran mengecam pernyataan Wakil Perdana Menteri Australia Julia Gillard yang mendukung aksi militer Israel di Gaza.

Ribuan warga Arab Australia yang berdemo menegaskan ketidaksetujuan mereka pada tudingan Julia Gillard bahwa Partai Hamas adalah pihak yang memulai permusuhan dengan Israel.

Julia Gillard menegaskan pemerintahnya mengakui "hak Israel untuk mempertahankan diri" dan mengutuk keras aksi Hamas dan kelompok militan Palestina lainnya yang menembakkan roket dan mortar ke wilayah selatan Israel.  (*)